Resume hari 2 PKKMB UNUSA
Materi I: Ainun Najib
Ahli IT Indonesia
Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri
Ainun Najib, seorang ahli IT Indonesia yang banyak dikenal karena kontribusinya dalam bidang teknologi, menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dan peluang perguruan tinggi di eradigital dan revolusi industri 4.0. Menurutnya, kehadiran teknologi bukan sekadar memudahkan kehidupan manusia, tetapi juga membawa dampak besar pada dunia kerja, pendidikan, dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, generasi muda, khususnya mahasiswa, perlu mempersiapkan diri dengan serius agar tidak tertinggal. Sejak tahun 2018, Ainun sudah menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI). Saat itu, AI masih terbatas pada sistem rekomendasi video, belanja online,atau optimasi rute perjalanan. Namun, dalam waktu singkat, AI berkembang pesat dan kini mampumelakukan interaksi kompleks, bahkan menjadi teman curhat bagi sebagian orang.
Hal ini membuktikan bahwa pproyeksi bapak Ainun mengenai masa depan AI semakin nyata: hampir semua bidang pekerjaan berpotensi diotomatisasi. Meski demikian, Ainun menekankan bahwa secanggih apa pun AI, ada dua hal yang tidak dapat digantikan: kreativitas dan rasa kemanusiaan. Kreativitas adalah kemampuan manusia untuk melahirkan ide baru, berpikir strategis, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar orisinal. AI hanya bisa mempelajari data yang ada melalui proses machine learning, kemudian meniru atau merangkum informasi tersebut. Namun, AI tidak bisa menciptakan hal yang sepenuhnya baru. Dalam perspektif keimanan, hal ini sejalan dengan konsep “ilmu laduni” yang diyakini berasal langsung dari Tuhan, sehingga tidak mungkin dihasilkan oleh mesin. Kedua, rasa kemanusiaan atau empati. AI memang bisa meniru kata-kata yang terdengar ramah, bahkan meniru ekspresi manusia. Namun, itu hanya tiruan, bukan empati sejati.
Misalnya, sebuah senyuman manusia yang tulus memiliki ciri khas tertentu yang tidak bisa ditiru oleh mesin. Hal-hal kecil seperti itu menunjukkan bahwa AI hanya mampu berpura-pura, tetapi tidak memiliki jiwa dan perasaan. Karena itulah, nilai kemanusiaan tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak tergantikan. Untuk menjelaskan lebih konkret, Ainun menggunakan kerangka kuadran. Ada pekerjaan yang berada di kuadran bawah kiri: pekerjaan tanpa kreativitas dan tanpa empati. Bidang ini sangat rawan terotomatisasi, misalnya logistik, pengiriman barang, atau pekerjaan gudang. Contoh nyata bisa dilihat pada Amazon, di mana gudang-gudangnya sudah sepenuhnya dijalankan oleh robot. Bahkan di beberapa negara maju, uji coba kendaraan otonom tanpa sopir sudah dilakukan untuk distribusi logistik. Artinya, pekerjaan di kuadran ini akan semakin sedikit dibutuhkan manusia. Sebaliknya, ada bidang yang menekankan empati meski tidak terlalu membutuhkan kreativitas. Contohnya layanan kesehatan. Tenaga medis tidak bisa bebas berkreasi dalam menentukan obat atau metode pengobatan, karena sudah ada standar baku berdasarkanpenelitian ilmiah.
Namun, empati dan kemanusiaan menjadi kunci utama dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Dokter atau perawat yang mampu memahami perasaan pasien, memberi dukungan moral, dan menghadirkan rasa nyaman tidak akan bisa digantikan oleh robot atau AI. Bapak Ainun juga menegaskan pentingnya menyeimbangkan kemampuan teknis dengan soft skill. Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya fokus membekali mahasiswa dengan keterampilan teknologi, tetapi juga menumbuhkan nilai kemanusiaan, etika, dan kepemimpinan. Dunia kerja masa depan akan dipenuhi oleh kompetisi antara manusia dengan teknologi, sehingga mahasiswa harus mampu menempatkan diri pada posisi yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Bagi Indonesia, hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar. Banyak pekerjaan tradisional di Indonesia yang berpotensi hilang karena otomatisasi. Namun, jika generasi muda mampu mengasah kreativitas dan empati, mereka akan mampu bersaing, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global. bapak Ainun mengingatkan bahwa mahasiswa saat ini masih memiliki waktu panjang untuk mempersiapkan diri.
Jika sejak dini mereka menumbuhkan kreativitas dan rasa kemanusiaan, maka mereka akan tetap relevan di masa depan. Kesimpulannya, Ainun Najib memberikan pesan utama bahwa mahasiswa harus menghindari bidang-bidang yang sepenuhnya bisa diotomatisasi. Sebaliknya, mereka harus fokus pada dua hal: kreativitas dan empati. Dua kemampuan inilah yang akan membuat manusia tetap unggul, bahkan ketika teknologi semakin canggih. Perguruan tinggi di era digital perlu menjadi tempat lahirnya generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan yang kuat untuk membangun bangsa di masa depan.
Resume Materi VI KH. Ma’ruf Khozin
Ketua Aswaja Center PWNU Jawa
Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah
KH. Ma’ruf Khozin dalam penyampaian materinya menekankan pentingnya peran mahasiswa UNUSA sebagai generasi penerus yang membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah. Beliau mengingatkan bahwa umat Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, adalah mayoritas terbesar di dunia. Fakta ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar dalam menjaga tradisi keislaman yang moderat, toleran, dan menebarkan rahmat bagi semesta. Aswaja An-Nahdliyah merupakan manhaj (jalan berpikir dan beramal) yang diwariskan para ulama terdahulu. NU sebagai penjaga tradisi Aswaja berpegang pada empat mazhab fikih besar (Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali) serta akidah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Prinsip ini menjadikan NU selalu berada di jalur tengah: tidak ekstrem kanan, tidak pula ekstrem kiri. Konsep tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi dasar dalam menyikapi perbedaan serta menjaga harmoni kehidupan beragama dan berbangsa. KH. Ma’ruf Khozin juga menegaskan bahwa ciri khas NU bukan hanya sekadar pengakuan identitas, melainkan tercermin dalam sikap hidup sehari-hari. Seorang yang benar-benar mengamalkan nilai Aswaja akan tampil sebagai pribadi yang bijaksana, tidak berlebihan, serta mampu menjadi penengah di tengah perbedaan. Dari sinilah lahir generasi rahmatan lil ‘alamin, yaitu generasi yang mampu memberi kebaikan dan manfaat seluas-luasnya. Dalam praktik keagamaan, warga NU dikenal dengan berbagai amaliah khas yang telah diwariskan ulama, di antaranya: Qunut Subuh, dengan dasar dari riwayat sahabat Anas bin Malik. Amaliah ini menegaskan konsistensi NU dalam menjaga tradisi fiqh Syafi’i. Yasinan malam Jumat sebagai sarana doa bersama untuk para guru, orang tua, dan kaum muslimin yang telah wafat. Ziarah kubur, untuk mendoakan orang yang sudah meninggal serta mengingatkan diri akan kehidupan akhirat.
Namun beliau menekankan, mahasiswa sebaiknya lebih fokus pada belajar, sementara ziarah dapat dilakukan bersama keluarga setelah lulus Sholawat, yang dalam pandangan NU dapat dibaca dengan berbagai redaksi sahabat dan ulama. Hal ini menunjukkan fleksibilitas ibadah sekaligus penghormatan kepada Rasulullah Tahlilan, tradisi doa bersama yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memperkuat persaudaraan, kepemimpinan sosial, dan kebersamaan dimasyarakat. Beliau mencontohkan, seorang mahasiswa yang terbiasa memimpin tahlil akan terlatihpula dalam memimpin organisasi atau masyarakat kelak. Kepemimpinan dalam ibadah dapat menjadi modal untuk kepemimpinan sosial dan profesional. Selain aspek keagamaan, KH. Ma’ruf Khozin menekankan pentingnya aspek kebangsaan. NU sejak awal berdiri telah menanamkan prinsip cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Dalilnya adalah doa Nabi Muhammad agar umatnya mencintai Madinah sebagaimana mereka mencintai Makkah. Sejarah pun mencatat bahwa murid-murid Syaikhona Kholil Bangkalan berada di garda depan perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Dengan demikian, mahasiswa UNUSA diharapkan tidak hanya menjadi pribadi yang saleh secara spiritual, tetapi juga berjiwa nasionalis, moderat, dan mampu menjaga nilai-nilai toleransi. Mereka adalah calon pemimpin yang diharapkan mampu mengayomi masyarakat dengan semangat Aswaja dan cinta tanah air. Kesimpulannya, generasi Aswaja An-Nahdliyah adalah generasi yang berpegang pada tradisi ulama, menjaga keseimbangan dalam beragama, mengamalkan amaliah khas NU dengan penuh keyakinan, serta siap membangun bangsa dengan prinsip moderasi, toleransi, dan cinta tanah air. Inilah identitas yang perlu dijaga oleh mahasiswa UNUSA sebagai bagian dari perjalanan mereka menuju pemimpin masa depan yang rahmatan lil ‘alamin.
Materi IX
Achmad Syafiuddin, S.Si., M.Phil., Ph.D
Pengembangan Karakter Mahasiswa: Antiplagiarisme
Dr. Achmad Syafiuddin menegaskan bahwa plagiarisme merupakan masalah serius dalam dunia akademik. Ia tidak hanya terjadi pada mahasiswa, tetapi juga akademisi senior, bahkan profesor. Banyak kasus menunjukkan bahwa pelanggaran ini dapat berujung pada sanksi berat, mulai dari pencabutan gelar, pemecatan jabatan, hingga rusaknya reputasi ilmiah seseorang. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai generasi akademik penerus bangsa perlu membangun karakter antiplagiarisme sejak dini.
Definisi Plagiarisme
Menurut KBBI, plagiarisme adalah penciptaan yang melanggar hak cipta. Artinya, setiap karya melekat pada pemilik hak cipta, sehingga menjiplak tanpa izin berarti merampas hak orang lain. Secara terminologi, kata plagiaris muncul sekitar 1900 tahun lalu, bermakna “penculik” atau “perampas.” Hal ini menggambarkan bahwa tindakan plagiarisme dianggap sebagai upaya merampas karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya pribadi. Bentuk karya yang bisa dipalsukan atau dijiplak meliputi karangan, pendapat, tulisan ilmiah, ide,hingga karya seni. Potensi dan Bahaya Plagiarisme.
Plagiarisme bisa menimpa siapa saja, dari mahasiswa hingga pejabat negara. Bahayanya antara lain:
- Merusak integritas akademik – karya ilmiah kehilangan nilai orisinalitas.
- Menghancurkan reputasi – banyak contoh profesor atau pejabat yang gelarnya dicabut karena
- terbukti plagiat.
- Menghambat inovasi – budaya menjiplak membuat mahasiswa enggan berpikir kritis dan kreatif.
- Sanksi akademik dan hukum – plagiat bukan sekadar kesalahan etika, tetapi juga pelanggaran
- hak cipta.
Faktor Penyebab Plagiarisme
- Ketidaktahuan – banyak mahasiswa tidak paham apa saja bentuk plagiarisme.
- Merasa aman (tidak akan ketahuan) – padahal perkembangan teknologi sudah memungkinkan pendeteksian cepat lewat tools.
- Takut gagal – ketakutan tidak bisa menyelesaikan tugas atau menghasilkan karya yang baik
- sering mendorong mahasiswa menjiplak.
- Tidak sengaja – misalnya karena kurangnya pemahaman cara mengutip, atau tidak teliti dalam
- menulis daftar pustaka.
- Lupa mencantumkan rujukan – kelalaian sekecil apa pun dapat berakibat karya dianggap plagiat.
- Keinginan tampil hebat – menyajikan ide orang lain tanpa sitasi untuk terlihat unggul.
Cara Menghindari Plagiarisme
- Pahami bentuk plagiarisme: copy-paste, parafrasa tanpa sumber, atau self-plagiarism.
- Gunakan sitasi yang benar: mencantumkan sumber dalam teks maupun daftar pustaka sesuai
- kaidah.
- Manfaatkan teknologi: cek orisinalitas dengan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme.
- Bangun kepercayaan diri: jangan takut gagal, karya original lebih bernilai meski sederhana.
- Hargai karya orang lain: setiap ide, tulisan, atau penelitian memiliki pemilik hak cipta.
Kesimpulan
Plagiarisme adalah bentuk pencurian intelektual yang berdampak luas: merusak integritas, menghancurkan reputasi, hingga menutup peluang akademik dan karier. Mahasiswa harus membangun karakter akademik yang jujur, disiplin, dan menghargai karya orang lain. Dengan demikian, integritas keilmuan tetap terjaga dan dunia akademik menjadi ruang lahirnya ide-ide baru yang bermanfaat bagi bangsa dan dunia.
lihat juga blog teman saya :

Komentar
Posting Komentar