Dari Belajar hingga Mengajar : Pengalaman Mengabdi yang Berdampak untuk Desa

 Dari Belajar hingga Mengajar : Pengalaman Mengabdi yang Berdampak untuk Desa.



Satu hal yang selalu saya angankan akan menjadi kenyataan, disinilah akanku ceritakan pengalamanku bergabung dalam kegiatan bina desa dari FKMB SURAMADU (Forum komunitas Mahasiswa Bidikmisi Surabaya-Madura) di kegiatan ini kurang lebih tergabung 99 mahasiswa dari kampus yang berbeda-beda diSurabaya-Madura dengan satu tujuan yang sama. Di sini langkah kecil yang akan membawaku ke perjalanan yang lebih besar karena 14 hari disana setiap momen yang dilalui akan bermakna dalam seumur hidup. Aku datang dengan bangga memakai almamater Kampusku, Unusa. Disuatu desa daerah Madura menyambutku dengan suasana sederhana dan penuh kehangatan meskipun saat itu aku datang membawa sejuta rasa ragu. 

Aku datang dengan hati ragu dan kahwatir yang dipenuhi dengan beberapa pertanyaan "Bagaimana membangun komunikasi dengan orang sepuh di sana? Apakah aku mampu membawa perubahan bersama-sama melalui proker? apakah aku bisa melawan ketakutanku jikalau nanti akan gagal?" namun rasa penasaranku lebih tinggi "Mengapa desa ini dipilih? Apakah benar karena perlu perhatian khusus? jikalau iya, faktor apa yang mendukung." Selain hal itu, keinginanku untuk mengabdilah akan meningkatkan semangatku. Hari pertama disana waktu untuk berkunjung ke rumah warga, akhirnya aku menjumpai salah satu kekhawatiranku kendala yaitu bahasa, sering dijumpai disana orang yang sudah berumur tidak mengerti bahasa Indonesia, terkadang ada yang tau namun tidak percaya diri untuk pelafalannya, Karena kami juga mengajak beberapa siswa yang berkuliah di madura dan Alhamdulillahnya ada salah satu siswa yang bisa bahasa madura karena dia warga lokal, akhirnya kami meminta untuk menyalakannya. Obrolan kami mengalir sendiri, tertawa, cerita bahkan kami membuat konten video juga, kami terlihat sangat familiar. Disitu aku menyimpulkan bahwa untuk berbaur dengan warga ternyata tidak sesusah itu.

Berlanjut di malam sebelum hari pertama mengajar, aku terploting di pengajaran SMP Islam, Malam sebelum hari pertamaku mengajar, aku mendapatkan matapelajaran yang bukan ahli ku dan juga tidak selinier dengan jurusanku yaitu Kesehatan dan materi yang pertama harus ku sampaikan adalah Informatika, maka dari itu aku berusaha menyiapkan materi dengan sebaik mungkin dengan mencari file modul kemendikbud di google dan mencatat materi dan praktek apa yang akan ku sampaikan dan ajarkan ke setiap jenjang kelasnya. Aku juga mencoba membayangkan metode pembelajaran seperti apa yang bisa mencairkan suasana kelas. Tetapi dibalik persiapan itu ada perasaan khawatir gagal, takut mengecewakan, dan takut tidak diterima. 

Namun, kekhawatiran dan ketakutanku mulai pudar saat aku benar-benar berada di hadapan mereka. Hari itu menjadikan awal perjumpaan yang mengubah banyak hal, karena aku akan menemani mereka 10 hari kedepan. Perasan takut dan khawatir ini mulai pudar saat 3 hari berjalan, mulai terbiasa dengan sikap dan sifat anak anak disana, mulai terbiasa akan perubahan tiba- tiba pada matapelajaran yang akan disampaikan, menyiapkan materi dadakan dan menyiapkan ice braeking disetiap harinya. Tapi yang masih menjadi tantangan adalah sikap mereka yang masih sangat labil dan juga mudah mengikuti prilaku yang sering mereka jumpai entah kebaikan atau bahkan kenakalan. 

Ada satu hal yang sangat membekas, disela-sela istirahat, guru menyampaikan kalimat bahwa "kehadiran kalian sangat terasa, sangat membawa pengaruh yang mana salah satunya membangkitkan kembali aturan-aturan dulu sudah ada dan sempat tidak digunakan lagi" disitu aku sadar jika dilihat dari murid muridnya yang dulu tidak begitu mengerti rangkaian upacara dan sekarang sangat semangat bertugas dan khidmat mengikuti upacara. Dan dimana dulu mereka berangkat sekolah tidak bawa buku maupun tidak memakai sepatu dan perlahan mereka mulai berubah, berangkat sekolah dengan membawa alat tulis, seragam dirapikan dan memakai sepatu karena dari kami terutama penanggung jawab pengajaran di SMP juga menegaskan "jika tidak memakai sepatu atau tidak membawa alat tulis silahkan pulang dan ambil" meski mereka yang disuruh pulang akan mampir toko jajan dan lainya, namun murid juga perlahan menyadari kesalahannya. Aku sangat salut dengan mereka yang mau berubah. Mereka mengajarkanku bahwa perubahan bukan besar kecilnya langkah, bukan tentang cepat lambatnya waktu, tetapi tentang ketulusan niat saat melangkah.

Hari hari selanjutnya berjalan dengan lancar untuk pengajaran, proker umkm, posyandu, pelatihan ibu hamil, dan sambang warga jika ada waktu luang, hingga terbuatlah kumpulan "anak anak mangar" dengan salah satu warga yang selalu mengkoordinasi warga desa, karena berharap kita bisa kesana lagi suatu saat nanti, dan harapanku juga begitu. Mereka yang semula asing, kini menjadi bagian keluarga baru. Aku belajar bahwa mengabdi di desa bukan hanya mencari pengalaman, tapi membuat kita belajar dari segala hal. Aku datang dengan kekhawatiran dan ketakutan, namun pulang membawa keberanian baru. Kini semua cerita telah terukir dihati dan kisah meninggalkan jejak kebaikan suatu saat nanti. Dari pengalaman ini, Kami memberi tanpa mengharap kembali, namun justru membawa lebih banyak dari apa yang dibayangnkan Doa, senyuman dan kenangan yang abadi di dalam hati. Hanya ingin mengucapkan terima kasih atas pelajaran dan kenangan indahnya, sampai jumpa di lain kesempatan suatu saat nanti.


janagan lupa mampir, dan baca di link blog temanku : 

Diana Fatika Sari 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan Saya Memilih D3 Keperawatan di UNUSA

Resume hari 2 PKKMB UNUSA